Siapkah Anak Zaman Now Belajar Online?

Anak-anak kita hidup di zaman kreatif, sebuah zaman yang memungkinkan mereka menggunakan teknologi untuk belajar apapun. Internet, gawai (gadget), permainan, aplikasi, dan masih banyak lagi menawarkan akses serta metode pembelajaran yang beragam untuk anak. Sudahkah kita mengajak anak memanfaatkan hal-hal tersebut sebagai teknologi pembelajaran – tak sekadar mengonsumsi, namun menggunakannya dalam berkarya?


Ada empat hal yang bermakna yang dapat anak kerjakan saat menggunakan teknologi pembelajaran; tidak semata-mata menggunakan, namun beranjak dari sekadar pengguna menjadi pencipta. Apa saja?

Pertama, anak aktif belajar. Meskipun belajar (studying) secara tradisional kita kenal sebagai kegiatan menyerap ilmu, belajar (learning) punya makna yang lebih luas. Internet memang bisa menjadi sumber belajar yang kaya informasi buat anak, namun apakah anak – seperti sebagian orang dewasa lainnya – hanya menjadikan internet untuk mengunduh pengetahuan semata? Teknologi pembelajaran yang kian mutakhir sebenarnya memberikan setidaknya dua kesempatan belajar: pertama, memancing rasa ingin tahu anak tanpa perlu disuruh belajar oleh orang dewasa, dan kedua, mengunggah pengetahuan, atau dengan kata lain, berkarya. Kini, internet dan web 2.0, tidak hanya menjadi sumber pengetahuan, melainkan juga tempat untuk berkarya!

Kedua, anak bisa berkolaborasi. Teknologi pembelajaran memungkinkan anak untuk menggunakan bakatnya dalam berkarya bersama anak lain dengan bakat yang sama, atau berbeda. Atau setidaknya, anak-anak yang memiliki kegemaran yang sama – meskipun terbatasi oleh ruang dan waktu – dapat ‘bertatap muka’. Damai, putri Bukik Setiawan, lebih mudah menemukan teman-teman yang gemar ngeblog ya saat ngeblog, karena ngeblog ternyata bukan kegiatan yang saat itu dilirik teman-teman di sekolah. Berkat teknologi, anak tidak merasa sendiri dalam belajar, berkarya, dan mengembangkan bakatnya.

Ketiga, anak lebih mudah mendapatkan masukan. Saat anak aktif belajar dan mengunggah karyanya dengan bantuan teknologi pembelajaran, ini memberi kesempatan bagi karya tersebut untuk dinikmati lebih banyak orang. Saat lebih banyak orang bisa mengakses karya anak, lebih mudah dan lebih banyak masukan yang bisa diterima anak. Ada banyak hal yang bisa dipelajari anak tentang mendapatkan umpan balik: bahwa penikmat karya punya kebutuhan dan selera yang berbeda-beda, sehingga dalam menampilkan hasil belajar, anak bisa mulai belajar peka terhadap kebutuhan ini. Di tingkat selanjutnya, anak sudah tak lagi berkarya untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain.

Keempat, anak berkesempatan terhubung dengan ahlinya. Siapa yang tidak ingin mendapat komentar dari penyanyi atau sastrawan favoritnya? Berkat teknologi, anak bisa berinteraksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan ahli di bidang bakat yang ditekuninya. Seorang ibu membuat anaknya terpukau setelah mengajak sang anak yang bosan belajar itu-itu saja menonton video presentasi TED. Alhasil, mereka berdua menjadikan kegiatan tersebut kebiasaan menjelang tidur! Dengan menonton TED, sang anak bisa terinspirasi dengan hal-hal baru, dan mengenal para ahli yang menekuni fokus belajar yang sama dengan anak.

Saat anak siap menggunakan teknologi sebagai bagian dari proses belajar mandiri, sudah siapkah kita sebagai orangtua untuk memandunya menggunakan teknologi pembelajaran dengan cara yang lebih bermakna?

Zeen is a next generation WordPress theme. It’s powerful, beautifully designed and comes with everything you need to engage your visitors and increase conversions.